D3-AB POLSA Dorong Daya Saing Lulusan melalui Sertifikasi Kompetensi BNSP Bidang Digital Marketing

PURWOREJO — Program Studi Diploma III Administrasi Politeknik Sawunggalih Aji (POLSA) mengikuti sertifikasi kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) bidang digital marketing sebagai bagian dari upaya meningkatkan kompetensi, daya saing, dan profesionalisme lulusan. Kegiatan ini menjadi langkah untuk memperkuat kesiapan mahasiswa menghadapi kebutuhan dunia kerja yang semakin dipengaruhi oleh pemanfaatan teknologi dan kanal pemasaran digital.

Sertifikasi kompetensi memberi ruang bagi mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan berdasarkan standar kompetensi yang dipersyaratkan. Dalam bidang digital marketing, kemampuan tersebut relevan dengan aktivitas promosi melalui kanal digital, penyusunan konten pemasaran, pemahaman audiens, pengelolaan kampanye, serta evaluasi kinerja pemasaran. Penguasaan konsep di kelas perlu berjalan seiring dengan keterampilan menerapkannya dalam situasi kerja yang nyata.

Ketua Program Studi, Agus Fitri Yanto, S.E., M.M., C.PS, C.BTS, C.DMS, menjelaskan bahwa keikutsertaan dalam sertifikasi diarahkan untuk memperkuat hubungan antara pembelajaran akademik dan pembuktian kompetensi. Hal tersebut direalisasikan melalui kegiatan uji kompetensi bidang digital marketing pada Sabtu, 20 Juni 2026 lalu. Uji kompetensi dilaksanakan melalui bekerja sama dengan LSP terkait yang diikuti oleh semu mahasiswa Prodi Administrasi Bisnis yang akan lulus pada tahun 2026. Menurutnya, lulusan pendidikan vokasi perlu memiliki bekal pengetahuan, keterampilan praktis, dan sikap profesional yang dapat ditunjukkan kepada calon pemberi kerja maupun mitra usaha.

“Kami ingin mahasiswa tidak hanya memahami digital marketing secara teoritis, tetapi juga mampu menerapkannya secara terukur dan bertanggung jawab. Sertifikasi kompetensi menjadi salah satu cara untuk mendorong mahasiswa menguji kesiapan dirinya, mengenali area yang masih perlu ditingkatkan, dan membangun kepercayaan diri saat memasuki dunia kerja,” ujar Agus Fitri Yanto.

Ia menambahkan, kompetensi digital marketing penting karena organisasi dan pelaku usaha semakin membutuhkan tenaga yang mampu mengomunikasikan nilai produk, menjangkau pasar yang tepat, serta membaca hasil aktivitas pemasaran digital. Karena itu, mahasiswa perlu membangun kebiasaan bekerja berdasarkan tujuan, data, kreativitas, dan evaluasi, bukan sekadar mengikuti tren media sosial.

“Keterampilan digital marketing bukan hanya soal membuat unggahan yang menarik. Mahasiswa perlu memahami siapa audiensnya, apa tujuan komunikasinya, bagaimana memilih kanal yang sesuai, dan bagaimana menilai apakah kampanye yang dilakukan benar-benar memberi hasil,” jelasnya.

Dari sisi institusi, Direktur POLSA, Supriono, S.E., M.Si., Ak., C.FA., memandang sertifikasi kompetensi sebagai bagian dari penguatan mutu pendidikan vokasi. Menurutnya, pendidikan tinggi vokasi perlu memastikan bahwa proses pembelajaran memberi bekal yang relevan dengan perkembangan kebutuhan industri dan dunia usaha, sekaligus menumbuhkan etos kerja, tanggung jawab, dan kemauan belajar sepanjang hayat.

“Kami mendukung langkah program studi yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menguji dan membuktikan kompetensinya. Pendidikan vokasi harus menghasilkan lulusan yang bukan hanya memiliki ijazah, tetapi juga mempunyai keterampilan yang relevan, sikap profesional, dan kesiapan untuk terus menyesuaikan diri dengan perubahan,” kata Supriono.

Direktur juga menekankan bahwa sertifikasi sebaiknya dipahami sebagai bagian dari proses pengembangan kompetensi, bukan sebagai tujuan akhir. Pengakuan kompetensi perlu diikuti dengan pengalaman praktik, penguatan portofolio, serta kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi. Dalam bidang digital marketing, perkembangan platform, perilaku konsumen, dan cara kerja teknologi berlangsung cepat sehingga lulusan perlu terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya.

“Sertifikasi menjadi salah satu pijakan untuk membangun kepercayaan terhadap kemampuan lulusan. Namun, setelah sertifikasi, mahasiswa tetap harus menjaga integritas, meningkatkan kualitas karya, dan terus belajar. Dunia kerja membutuhkan orang yang mampu menunjukkan hasil sekaligus bertanggung jawab atas prosesnya,” tambahnya.

Melalui keikutsertaan dalam sertifikasi kompetensi BNSP bidang digital marketing, POLSA berharap mahasiswa semakin siap menghadapi proses rekrutmen, beradaptasi di lingkungan kerja, maupun membantu pengembangan pemasaran usaha, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah. Kompetensi ini juga dapat menjadi modal bagi lulusan yang ingin merintis usaha sendiri dengan memanfaatkan strategi pemasaran digital secara lebih terarah.

Penguatan kompetensi tersebut selaras dengan semangat pendidikan vokasi yang menempatkan keterampilan terapan dan kesiapan kerja sebagai bagian penting dari proses pembelajaran. Ke depan, pembelajaran, praktik, proyek, dan sertifikasi dapat saling melengkapi agar mahasiswa memiliki bukti kompetensi yang lebih kuat serta mampu memberi kontribusi nyata bagi organisasi dan masyarakat.

Bagi mahasiswa, sertifikasi juga menjadi kesempatan untuk mengevaluasi kesiapan diri secara objektif. Proses ini diharapkan mendorong mereka lebih aktif membangun portofolio, mengasah kemampuan analitis dan kreatif, serta memahami bahwa profesionalisme tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi, tetapi juga oleh etika, ketelitian, komunikasi, dan konsistensi dalam bekerja.

Dengan langkah ini, Program Studi Diploma III Administrasi POLSA menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pembelajaran yang berorientasi pada kompetensi dan kebutuhan dunia kerja. Penguatan kemampuan digital marketing diharapkan dapat memperluas peluang lulusan untuk berkarier, berwirausaha, dan berkontribusi dalam pengembangan ekonomi di era digital. (afy/humaspolsa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *