Dari Tugas Proyek Bisnis Menjadi Usaha Mandiri, Kisah Luthfia Fadhila dan Hai Filo

Perjalanan merintis usaha sejak semester dua menjadi salah satu cerita kewirausahaan yang mengemuka dalam wisuda POLSA.

PURWOREJO — Bagi Luthfia Fadhila, A.Md.A.B., wisuda Politeknik Sawunggalih Aji (POLSA) bukan hanya perayaan kelulusan, tetapi juga momen untuk menengok perjalanan usaha yang dirintis sejak masih kuliah. Mahasiswi lulusan Program Studi Diploma III Administrasi Bisnis itu memulai usaha daring bidang fashion dan aksesori bernama Hai Filo pada 25 Januari 2024, ketika berada di semester dua.

Dalam kesan dan pesan wisudawan yang disampaikan pada Wisuda Tahun Akademik 2025/2026, Luthfia menceritakan bahwa Hai Filo bermula dari modal kecil untuk memenuhi tugas mata kuliah Proyek Bisnis yang diampu Agus Fitri Yanto, S.E., M.M. Dari tugas sederhana itu, ia mencoba menjalankan usaha dengan sungguh-sungguh, mempelajari prosesnya, menerima masukan, dan memperbaiki langkah dari waktu ke waktu.

Menurut kisah yang disampaikan Luthfia, dalam satu tahun terakhir Hai Filo mampu menghasilkan keuntungan hingga Rp30 juta. Ia juga memperoleh kesempatan membiayai kuliahnya sendiri melalui usaha tersebut. Bagi Luthfia, pencapaian itu patut disyukuri, tetapi pelajaran paling penting bukan hanya besaran keuntungan. Usaha tersebut mengajarkannya tentang keberanian memulai, ketekunan, kemandirian, tanggung jawab, serta pentingnya konsistensi.

Dalam kesan dan pesan wisudawan, Luthfia menyampaikan, “Hai Filo mengajarkan saya bahwa keterbatasan modal tidak harus menjadi alasan untuk berhenti bermimpi; bahwa ilmu di ruang kelas akan semakin bermakna ketika diuji dan diterapkan dalam kehidupan nyata.”

Pengalaman Luthfia menjadi salah satu kisah kewirausahaan yang mendapat pengakuan dalam wisuda di Ganeca Convention Hall, Purworejo, Kamis (15/10/2026). Pada acara itu, ia menerima penghargaan pelopor rintisan usaha bersama Mahanani Rahayuning Purnamasari, A.Md.A.B., pemilik Ayam Geprek Rizki Chicken. Penghargaan tersebut diberikan untuk mengapresiasi dedikasi dan kemampuan lulusan dalam merintis serta mengembangkan usaha mandiri selama masa studi.

Luthfia tidak menyampaikan kisahnya sebagai ukuran yang harus dibandingkan dengan perjalanan mahasiswa lain. Ia justru menekankan bahwa setiap lulusan memiliki latar belakang dan tantangan berbeda. Ada mahasiswa yang membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan, ada yang menghadapi keterbatasan, dan ada pula yang harus menguatkan diri dalam keadaan yang tidak mudah. Menurut pesannya, setiap perjuangan layak dihormati.

Kisah Hai Filo juga memperlihatkan bagaimana tugas pembelajaran dapat menjadi ruang untuk menguji gagasan. Tugas Proyek Bisnis yang awalnya bersifat akademik berkembang menjadi usaha yang dijalankan di luar kelas. Pengalaman tersebut memberi konteks nyata bagi materi administrasi bisnis, mulai dari keberanian memulai, pengelolaan kegiatan usaha, penerimaan masukan, hingga pembelajaran dari proses yang tidak selalu mudah.

Pada bagian kesan dan pesan, Luthfia menyampaikan terima kasih kepada keluarga, yayasan, Direktur, dosen, dan tenaga kependidikan POLSA. Ia menyebut dukungan dan bimbingan yang diterima sebagai bagian dari bekal untuk bertumbuh. Baginya, kampus menjadi tempat untuk membuktikan bahwa belajar dan berjuang dapat berjalan beriringan, serta bahwa ilmu di ruang kelas semakin bermakna ketika diterapkan dalam kehidupan nyata.

Ke depan, Luthfia berharap dapat terus mengumpulkan modal, mengembangkan Hai Filo, dan membangun merek sendiri di bidang lain. Ia menyadari bahwa perjalanan bisnis masih panjang dan akan menghadirkan tantangan maupun kemungkinan kegagalan. Namun, ia ingin terus belajar dengan keyakinan bahwa proses yang dijalani secara sungguh-sungguh dapat memberi pelajaran berharga.

Luthfia juga mengungkapkan, “Saya menyadari perjalanan ini masih panjang. Akan ada tantangan dan kemungkinan kegagalan, tetapi saya ingin terus belajar dan melangkah dengan keyakinan bahwa setiap proses yang dijalani dengan sungguh-sungguh akan memberi pelajaran berharga.”

Penghargaan kepada Luthfia dan Mahanani menjadi bagian dari ragam prestasi lulusan POLSA 2026. Pada wisuda yang sama, institusi juga memberi penghargaan bidang teknologi informasi kepada Fajar Bayu Timur, A.Md.Kom. Selain itu, dua karya lulusan diserahkan kepada pihak yang berkepentingan, yaitu aplikasi SIMONDA untuk pemantauan UMKM dan buku SOP serta pelayanan koperasi simpan pinjam. Kisah Luthfia memberi pesan bahwa kewirausahaan tidak selalu dimulai dengan modal besar atau rencana yang sempurna. Dalam pengalamannya, langkah pertama hadir dari tugas kuliah, lalu berkembang melalui praktik dan ketekunan. Bagi mahasiswa yang sedang belajar membangun usaha, pengalaman itu dapat menjadi pengingat untuk memulai secara terukur, terus mengevaluasi proses, dan menjaga tanggung jawab terhadap usaha maupun pendidikan. (afy/humaspolsa)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *